siang itu matahari benar2 sedang tidak bersahabat dengan diriku.
pancaran cahaya dan sengatannya membuat kepalaku pusing dan emosi pun memuncak.
belum lagi keringat segede-gede biji jagung ga ada genti-hentinya meyumbur dari lubang pori-poriku. ugghhhh.... puanaz bgtz sech!
kala itu aku baru saja pulang dari liputan di Mall Taman Anggrek.
aku yang biasa berpergian dengan motor, hari itu memutuskan untuk mencoba merakyat dengan naik angkot.
karena panas yang menghujam sudah membuat aku merasa terlalu.
akhirnya aku putuskan untuk naik patas ber-AC.
berharap akan mendapatkan udara dingin demi membuat otakku adem dan emosi mendera.
ternyata matahari mengalahkan pendingin di bus tersebut.
alhasil tetep ajah aku kipas2 pke kertas.
berharap bisa melupakan rasa panas, aku mulai sibuk dengan jari jemariku yang mencet2 tombol HP.
ehm... taulah ngepain? klo ga chating ya berfezbuk ria.
sedang asyik2nya menjamah HP, ternyata ada seorang bapak yang duduk di sampingku dengan badannya yang cukup besar dan tinggi.
bapak itu mulai mengganggu dengan mengeluarkan berbagai ocehan yang intinya marah2 karena AC nya ga berasa.
mungkin karena tak ada yang mengindahkan kata2nya, si bapak itu pun tertidur pulaszzz....
tak lama kemudian, si bapak itu pun terbangun dari tidurnya.
lalu dia memperhatikan aku yg tengah asyik berkutat dengan HP ku.
ditengah kesenagan yg sedang ku jalani, bapak itu pun menegurku dan akhirnya kita pun bercakap2.
awal pembicaraan dengan bapak itu sangat mengasyikan.
tapi ketika membahas masalah pekerjaan, aku pun mulai risih dan kesal dibuatya.
ketika aku bilang kalau aku berkerja sebagai wartawan, bapak itu malah bertanya "wartawan tanpa surat kabar atau bodrek neng?".
WHAT?
saat itu aku hanya menjawabnya dengan senyum yg ku paksa sok maniz.
padahal saat mendengar pertanyaanya itu kepalaku sudah bertanduk dan bermuka merah serta gigi bertaring sangat panjang.
bukan karena aku tersinggung, tapi aku tidak terima ajah kenapa pertanyaannya seperti itu.
mengapa bukan bertanya "wartawan apa? medianya apa? dimana kantornya" atau apalah.
mungkin itu akan lebih mengenakkan.
mungkin bapak itu tahu, kalau aku tidak terima dengan pertanyaannya itu.
lalu bapak itu berkata "maaf nenk, tidak ada maksud apa2. tapi yang bapak tahu banyak yang mengaku wartawan tapi ga punya media... bla...bla....bla..."
akhirnya demi menyenangkan hatiku (pikir ku), bapak itu bertanya di media apa aku bekerja, dimana kantornya, bisa dibeli dimana majalahnya dan pertanyaan2 lainnya...
dan ketika bapak itu mau turun, bapak itu berkata : "sekali lagi maaf yach nenk klo ada kata2 yang tidak menyenangkan. saya cuma pesen, jadi wartawan yang baik yach nenk, kasih informasi ke masyarakat yang bener, jangan bikin masyarakat jadi bingung, cuma karena mendapatkan uang akhirnya mereka memberitakan yang tidak layak diinformasikan atau info yang salah dan bla...bla...bla...."
lalu bapak itu berdiri dari duduknya. seperti belum puas, bapak itu berpesan lagi "jangan pernah jadi wartawan Tanpa Surat Kabar atau Bodrex ya!"
dan aku hanya bisa menunduk dan tersenyum manis kepadanya...
inti dari pembicaraan aku dengan bapak2 itu, membuat aku bertanya2:
apakah di luar sana pekerjaan sebagai wartawan masih jelek? dalam arti apakah masih banyak atau ada wartawan yg memberikan info yang salah? apa masih ada wartawan tanpa surat kabar?. ehmmm.......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar