tadi sore, setelah aku pulang kerja, aku melihat mata mamah dan papahku yang masih basah seperti orang yang baru saja menangis. karena memang benar orangtuaku baru saja selesai menangis...
ternyata beberapa menit sebelum aku sampai rumah, orangtuaku kedatangan tamu. dia bernama mank dedi. mank dedi memberikan kabar ke keluargaku, bahwa mang ade sudah tidak ada alias meninggal.
innalillahi wa inailahirojiun...
ketika aku pun mendengar kabar itu, sunggung aku tak kuasa untuk menahan air mata itu. air mata itu menetes dari kedua mataku berbarengan dengan otakku yang memutar memoriku dan mengingat siapakah dia sebenarnya.
sejak aku kecil, papah dan mamahku selalu membiasakan anak-anaknya untuk sarapan dan minum susu. meskipun sarapannya hanya sepotong roti manis atau setangkap roti tawar yg dilapisi margarin plus gula pasir atau serez. sampai akhirnya ortuku berlangganan roti oleh seorang penjual roti yang bernama mang ade.
penjual roti ini sangat baik. dia selalu memberikan kami bonus satu potong roti manis setiap kali mamahku membelinya. bahkan jika dia bertemu dengan adikku ataupun aku saat dia berjualan di sore hari, dia pasti memberikan rotinya secara gratis ke aku ataupun adikku.
orangnya sangat ramah, baik, sopan dan kebanyak orang2 di daerahku pasti mengenal dia. maklum yang langganan roti sm dia cukup banyak dan keramahan dan kebaikan dia itu jugalah yg membuat org sangat suka bila dia sudah membunyikan toet-toet miliknya. (gw lupa namanya apa. pokoknya yg sering dibunyiiin tukang roti dagh!)
jika dia ingin pulang kampung, dia selalu bilang sm pelanggannya. itu supaya pelanggan tidak menunggu dia. jika dia sudah kembali berjualan, pasti dia selalu memberikan oleh2 dari kampungnya. ada krupuk, ada beras merah, ada pisang, ada manggis dan lain-lain... pokoknya buanyak dech. bahkan kadang box isi rotinya bukan berisi roti tapi kerdus yg berisi oleh2 untuk keluarga aku.
aku kurang tahu, entah mengapa dia sangat baik ke keluargaku. sehingga dia selalu membawakan oleh2 untuk keluargaku. hanya yang kuingat pesan dari orangtuaku saat itu : kalian harus menghormati dia, karena dia sudah baik sama kita. orang baik itu harus dibalas dengan kebaikan juga.
ketika aku mulai kuliah, keluargaku sempat sedih ketika dia datang dan mengatakan, mulai bsk saya sudah ga jualan roti lagi. saya mo pulang kampung saja. nambang emas. nanti roti yg setiap hari diantar kesini akan diantar sma adik saya. adik saya yang akan mengantikan saya berjualan. adiknya itu bernama mang dedi.
hikz...hikz...hikz... syedihnya karena dia akan pulang kampung. dan mungkin akan sulit ketemu dia, kecuali klo keluargaku ke kampungnya atau dia bermain kerumahku.
ehm... ternyata adiknya tidak lama juga berjualan roti. karena akhirnya adik kakak ini membuka usaha sendiri dengan berjualan pecel ayam. jadi inget, dulu ketika rumahku kebanjiran, dia datang membawakan keluarga kami nasi bungkus dengan pecel ayamnya. ehmm... uenakz dech!
sudah lama keluargaku tidak bertemu dengannya. seingat aku, terakhir aku bertemu dengannya waktu tahun 2003 atau 2004 githu. saat itu keluargaku bermain ke kampungnya. sambutan keluarganya sungguh sangat baik sekali. bahkan ketika kami pulangpun sempat-sempatnya mereka mengumpulkan semua jenis hasil panannya dari kebunnya. sampai2 mobil kami penuh dengan oleh2 dimana2.
ehm... kini semua itu tinggalah kenangan. semua kebaikannya bener2 membuat aku makin ingin meneteskan air mata. terbayang semua olehku batapa baiknya dia, betapa ikhlasnya dia berbuat baik, betapa indah senyumannya dan betapa nyaman tawanya. semua masih terekam indah di otakku...
kini... aku hanya bisa bilang : selamat jalan mank ade... semua kebaikanmu akan selalu aku ingat. dan aku ingin lebih banyak lagi berbuat baik seperti dirimu. senyummu, tawamu, kebaikanmu akan selalu tersimpan di otakku...
selamat jalan mank ade...
semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik untukmu...
Aminnn...
Jumat, 19 Juni 2009
Selasa, 16 Juni 2009
Wartawan TSK atau BodReX?
siang itu matahari benar2 sedang tidak bersahabat dengan diriku.
pancaran cahaya dan sengatannya membuat kepalaku pusing dan emosi pun memuncak.
belum lagi keringat segede-gede biji jagung ga ada genti-hentinya meyumbur dari lubang pori-poriku. ugghhhh.... puanaz bgtz sech!
kala itu aku baru saja pulang dari liputan di Mall Taman Anggrek.
aku yang biasa berpergian dengan motor, hari itu memutuskan untuk mencoba merakyat dengan naik angkot.
karena panas yang menghujam sudah membuat aku merasa terlalu.
akhirnya aku putuskan untuk naik patas ber-AC.
berharap akan mendapatkan udara dingin demi membuat otakku adem dan emosi mendera.
ternyata matahari mengalahkan pendingin di bus tersebut.
alhasil tetep ajah aku kipas2 pke kertas.
berharap bisa melupakan rasa panas, aku mulai sibuk dengan jari jemariku yang mencet2 tombol HP.
ehm... taulah ngepain? klo ga chating ya berfezbuk ria.
sedang asyik2nya menjamah HP, ternyata ada seorang bapak yang duduk di sampingku dengan badannya yang cukup besar dan tinggi.
bapak itu mulai mengganggu dengan mengeluarkan berbagai ocehan yang intinya marah2 karena AC nya ga berasa.
mungkin karena tak ada yang mengindahkan kata2nya, si bapak itu pun tertidur pulaszzz....
tak lama kemudian, si bapak itu pun terbangun dari tidurnya.
lalu dia memperhatikan aku yg tengah asyik berkutat dengan HP ku.
ditengah kesenagan yg sedang ku jalani, bapak itu pun menegurku dan akhirnya kita pun bercakap2.
awal pembicaraan dengan bapak itu sangat mengasyikan.
tapi ketika membahas masalah pekerjaan, aku pun mulai risih dan kesal dibuatya.
ketika aku bilang kalau aku berkerja sebagai wartawan, bapak itu malah bertanya "wartawan tanpa surat kabar atau bodrek neng?".
WHAT?
saat itu aku hanya menjawabnya dengan senyum yg ku paksa sok maniz.
padahal saat mendengar pertanyaanya itu kepalaku sudah bertanduk dan bermuka merah serta gigi bertaring sangat panjang.
bukan karena aku tersinggung, tapi aku tidak terima ajah kenapa pertanyaannya seperti itu.
mengapa bukan bertanya "wartawan apa? medianya apa? dimana kantornya" atau apalah.
mungkin itu akan lebih mengenakkan.
mungkin bapak itu tahu, kalau aku tidak terima dengan pertanyaannya itu.
lalu bapak itu berkata "maaf nenk, tidak ada maksud apa2. tapi yang bapak tahu banyak yang mengaku wartawan tapi ga punya media... bla...bla....bla..."
akhirnya demi menyenangkan hatiku (pikir ku), bapak itu bertanya di media apa aku bekerja, dimana kantornya, bisa dibeli dimana majalahnya dan pertanyaan2 lainnya...
dan ketika bapak itu mau turun, bapak itu berkata : "sekali lagi maaf yach nenk klo ada kata2 yang tidak menyenangkan. saya cuma pesen, jadi wartawan yang baik yach nenk, kasih informasi ke masyarakat yang bener, jangan bikin masyarakat jadi bingung, cuma karena mendapatkan uang akhirnya mereka memberitakan yang tidak layak diinformasikan atau info yang salah dan bla...bla...bla...."
lalu bapak itu berdiri dari duduknya. seperti belum puas, bapak itu berpesan lagi "jangan pernah jadi wartawan Tanpa Surat Kabar atau Bodrex ya!"
dan aku hanya bisa menunduk dan tersenyum manis kepadanya...
inti dari pembicaraan aku dengan bapak2 itu, membuat aku bertanya2:
apakah di luar sana pekerjaan sebagai wartawan masih jelek? dalam arti apakah masih banyak atau ada wartawan yg memberikan info yang salah? apa masih ada wartawan tanpa surat kabar?. ehmmm.......
pancaran cahaya dan sengatannya membuat kepalaku pusing dan emosi pun memuncak.
belum lagi keringat segede-gede biji jagung ga ada genti-hentinya meyumbur dari lubang pori-poriku. ugghhhh.... puanaz bgtz sech!
kala itu aku baru saja pulang dari liputan di Mall Taman Anggrek.
aku yang biasa berpergian dengan motor, hari itu memutuskan untuk mencoba merakyat dengan naik angkot.
karena panas yang menghujam sudah membuat aku merasa terlalu.
akhirnya aku putuskan untuk naik patas ber-AC.
berharap akan mendapatkan udara dingin demi membuat otakku adem dan emosi mendera.
ternyata matahari mengalahkan pendingin di bus tersebut.
alhasil tetep ajah aku kipas2 pke kertas.
berharap bisa melupakan rasa panas, aku mulai sibuk dengan jari jemariku yang mencet2 tombol HP.
ehm... taulah ngepain? klo ga chating ya berfezbuk ria.
sedang asyik2nya menjamah HP, ternyata ada seorang bapak yang duduk di sampingku dengan badannya yang cukup besar dan tinggi.
bapak itu mulai mengganggu dengan mengeluarkan berbagai ocehan yang intinya marah2 karena AC nya ga berasa.
mungkin karena tak ada yang mengindahkan kata2nya, si bapak itu pun tertidur pulaszzz....
tak lama kemudian, si bapak itu pun terbangun dari tidurnya.
lalu dia memperhatikan aku yg tengah asyik berkutat dengan HP ku.
ditengah kesenagan yg sedang ku jalani, bapak itu pun menegurku dan akhirnya kita pun bercakap2.
awal pembicaraan dengan bapak itu sangat mengasyikan.
tapi ketika membahas masalah pekerjaan, aku pun mulai risih dan kesal dibuatya.
ketika aku bilang kalau aku berkerja sebagai wartawan, bapak itu malah bertanya "wartawan tanpa surat kabar atau bodrek neng?".
WHAT?
saat itu aku hanya menjawabnya dengan senyum yg ku paksa sok maniz.
padahal saat mendengar pertanyaanya itu kepalaku sudah bertanduk dan bermuka merah serta gigi bertaring sangat panjang.
bukan karena aku tersinggung, tapi aku tidak terima ajah kenapa pertanyaannya seperti itu.
mengapa bukan bertanya "wartawan apa? medianya apa? dimana kantornya" atau apalah.
mungkin itu akan lebih mengenakkan.
mungkin bapak itu tahu, kalau aku tidak terima dengan pertanyaannya itu.
lalu bapak itu berkata "maaf nenk, tidak ada maksud apa2. tapi yang bapak tahu banyak yang mengaku wartawan tapi ga punya media... bla...bla....bla..."
akhirnya demi menyenangkan hatiku (pikir ku), bapak itu bertanya di media apa aku bekerja, dimana kantornya, bisa dibeli dimana majalahnya dan pertanyaan2 lainnya...
dan ketika bapak itu mau turun, bapak itu berkata : "sekali lagi maaf yach nenk klo ada kata2 yang tidak menyenangkan. saya cuma pesen, jadi wartawan yang baik yach nenk, kasih informasi ke masyarakat yang bener, jangan bikin masyarakat jadi bingung, cuma karena mendapatkan uang akhirnya mereka memberitakan yang tidak layak diinformasikan atau info yang salah dan bla...bla...bla...."
lalu bapak itu berdiri dari duduknya. seperti belum puas, bapak itu berpesan lagi "jangan pernah jadi wartawan Tanpa Surat Kabar atau Bodrex ya!"
dan aku hanya bisa menunduk dan tersenyum manis kepadanya...
inti dari pembicaraan aku dengan bapak2 itu, membuat aku bertanya2:
apakah di luar sana pekerjaan sebagai wartawan masih jelek? dalam arti apakah masih banyak atau ada wartawan yg memberikan info yang salah? apa masih ada wartawan tanpa surat kabar?. ehmmm.......
Sabtu, 06 Juni 2009
eGoiZ!
ehm... sampai saat ini masih ajah yach ditemukan orang yang super duper egois! hanya mementingkan dirinya sendiri. ga nyadar yach klo kita itu pasti butuh bantuan orang lain? yakin yach klo bisa berdiri sendiri tanpa tulang yang membuatnya tegap?
ehm... klo emang ada yg bisa, gw akan bilang ke dia klo "lo itu amat sangat hebatz!"
ada satu orang yang tanpa disadari mengakui bahwa dia bisa melakukan segala hal sendiri tanpa bantuan orang lain. tapi anehnya, dia pun pernah minta bantuan orang lain. sepertinya dia ga sadar bahwa ternyata dia butuh bantuan orang lain.
kasihan gw sm orang yang seperti ini. dengan lantang mengatakan "Gw bisa koq sendiri". tapi sayang... entah disadari atau tidak olehnya dia pun minta bantuan sama orang lain. aneh!
ehmm... apakah elo yakin bisa melakukannya sendiri?
ehm... klo emang ada yg bisa, gw akan bilang ke dia klo "lo itu amat sangat hebatz!"
ada satu orang yang tanpa disadari mengakui bahwa dia bisa melakukan segala hal sendiri tanpa bantuan orang lain. tapi anehnya, dia pun pernah minta bantuan orang lain. sepertinya dia ga sadar bahwa ternyata dia butuh bantuan orang lain.
kasihan gw sm orang yang seperti ini. dengan lantang mengatakan "Gw bisa koq sendiri". tapi sayang... entah disadari atau tidak olehnya dia pun minta bantuan sama orang lain. aneh!
ehmm... apakah elo yakin bisa melakukannya sendiri?
Langganan:
Postingan (Atom)