seperti biasa, ketika sampai kantor aku membuka email yahoo ku.
seperti biasa pula, banyak email yg masuk... secara aku ikutan 6 milis. jadi lumayan bejibun dech email yg masuk.
satu persatu aku buka dan aku lihat folder2 milis2 yg ada.
ternyata di dalam folder MediaCare, ada salah satu topik yang bikin aku tertarik untuk segera membacanya. Topiknya "Didik Anak Beribadah, Tak Kenal Kata Demokratis".
setelah membaca isinya, subahanalloh... sungguh sangat menakjubkan untukku...
sesaat terlintas keinginan2 ku yg telah lama dan belum terwujud dan mungkin akan segera terwujud... amin...
kelak... aku ingin membina rumah tanggaku seperti itu...
sungguh itu sangat mempesona dibandingkan apapun yang ada di dunia ini...
semoga kelak aku dan suamiku nanti, bisa membangunnya seperti itu... amin...
berikut adalah isi email itu :
Jawa Pos, [ Jum'at, 19 Desember 2008 ]
Didik Anak Beribadah, Tak Kenal Kata Demokratis
Muhammad Taufik menyebut dirinya sebagai orang tua yang demokratis. Bagi dia, kelima buah hatinya boleh mempertanyakan, boleh tak setuju, maupun mendebat balik mengenai semua hal. Kecuali satu, ibadah. "Soal ibadah, saya akui saya tak demokratis. Sebab, memang ibadah merupakan harga mati," katanya.
Salah satu contoh, anak-anaknya boleh bermain. Tapi, menjelang magrib, mereka sudah harus berada di rumah dan siap melaksanakan salat berjamaah. Begitu pula saat anak-anaknya berada di luar rumah. Ketika menelepon mereka, pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Taufik adalah "Sudah salat belum?". "Itu penting supaya mereka (anak-anaknya, Red) tidak lupa ibadah," terangnya.
Taufik mengakui bahwa keluarganya memang religius dan mengenalkan agama sejak anak-anaknya masih berada dalam kandungan. "Sering diperdengarkan azan dan bacaan Alquran. Itu kebiasaan keluarga sejak lama," tutur dosen ITS tersebut.
Sejak kecil, anak-anak Taufik digembleng ajaran agama dengan cara menarik. Misalnya, saat dia dan istrinya salat, anaknya yang masih kecil didudukkan di dekat mereka. "Sehingga, anak-anak melihat orang salat. Itu pengenalan pertama salat," tegasnya.
Upaya Taufik tersebut berhasil. Karena terbiasa melihat orang salat, kemudian sering berjamaah, anak-anaknya mempunyai kebiasaan positif. Yakni, selalu menangis bila tidak dibangunkan untuk salat berjamaah ketika azan subuh. Selain itu, Taufik membiasakan diri untuk salat berjamaah di rumah. "Kalau saya masih dalam perjalanan, istri pasti menunggu," ungkap kepala Laboratorium Geodesi dan Surveying Teknik Geomatika ITS tersebut.
Bukan apa-apa, selain pahala 27 kali lipat, kebiasaan itu menambah kerukunan keluarga. "Selesai salat, pasti dilanjut dengan ngobrol. Baik yang ringan maupun curhat," tambahnya.
Selain bekal di akhirat kelak, manfaat rajin beribadah pun dirasakan oleh Taufik. "Secara batin, saya lebih siap saja untuk orang-orang yang berniat jahat atau mencelakai lewat hal gaib, seperti santet," paparnya.
Kendati tergolong religius, bukan berarti Taufik kaku dan tak mempunyai toleransi beragama yang baik. Buktinya, lingkungan tempat tinggalnya didominasi warga nonmuslim. "Secara sosial, bergaul itu penting. Saya tak membatasi diri maupun anak-anak untuk membatasi pergaulan," urainya. (war/ayi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar